Kementerian Pariwisata (Kemenpar) meluncurkan Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2025/2026, dokumen strategis yang memetakan dinamika pariwisata global, arah kebijakan nasional, hingga proyeksi tren industri dua tahun ke depan. Peluncuran dilakukan dalam forum Wonderful Indonesia Outlook (WIO) di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, beberapa waktu llau.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menegaskana outlook ini menjadi rujukan lintas pemangku kepentingan, terutama dalam merespons tantangan global seperti perlambatan ekonomi, tensi geopolitik, dan percepatan teknologi berbasis AI.“Kami berharap outlook ini menjadi panduan bersama dalam mengusahakan sektor pariwisata ke depan,” ujar Widiyanti.
Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa ,menyatakan pedoman Indonesia Tourism Outlook ini sudah komprehensif. Kendati demikian, hal ini tidak menutup ruang, masukkan dan dukungan dari berbagai pihak. Karena dalam pengembangan sektor pariwisata di masa mendatang diperlukan orkestrasi bersama untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi.
“Saya percaya kita akan go beyond. Dengan segala optimisme ini mudah-mudahan Indonesia bisa leading di sektor pariwisata. Pendekatan quality tourism relevan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat merata bagi masyarakat.,” kata Ni Luh Puspa.
Penyusunan ITO merupakan hasil sinergi tiga institusi, Kementerian Pariwisata, Kementerian PPN/Bappenas, dan Bank Indonesia. Kolaborasi ini menjadi dasar untuk menyelaraskan kebijakan fiskal, pembangunan, dan stabilitas makro dengan strategi pengembangan sektor pariwisata.
Kementerian PPN/Bappenas menegaskan kolaborasi dan inovasi berkelanjutan pariwisata saat ini adalah merupakan low hanging fruit untuk menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi menuju 8% dan mendukung transformasi sosial, kelestarian lingkungan, dan percepatan digitalisasi.
Bank Indonesia meyakini pengembangan pariwisata berkualitas secara lebih luas akan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan penerimaan devisa sehingga memperkuat ketahanan sektor eksternal dan stabilitas perekonomian Indonesia. Dukungan BI mencakup kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan akselerasi QRIS di sektor pariwisata.
Pada outlook tersebut, Indonesia mencatatkan pemulihan pariwisata yang solid selama 2025. Kinerja ditopang oleh meningkatnya mobilitas wisatawan nusantara dan mancanegara, kontribusi devisa yang naik, pertumbuhan PDB pariwisata, dan ekspansi investasi terutama di destinasi prioritas.
Ke depannya, pemerintah mengarahkan transformasi ke empat fokus: pertumbuhan ekonomi berbasis kualitas, pelestarian lingkungan, penguatan SDM pariwisata, dan pemerataan manfaat bagi masyarakat daerah.
Bappenas memaparkan hasil Indikator Pariwisata Berkualitas (QT) 2025 mencakup 5 destinasi prioritas dan 3 destinasi regeneratif, antara lain Borobudur–Yogyakarta–Prambanan, Lombok–Gili Tramena, Labuan Bajo, Danau Toba, Manado–Likupang, Bali, Jakarta, dan Kepulauan Riau.
Skor QT memperlihatkan peningkatan, terutama pada pilar keberlanjutan, melalui pengelolaan destinasi ramah lingkungan, penataan kawasan, penerapan visitor management berbasis carrying capacity. Bank Indonesia mencatat tiga tren besar yang menggeser lanskap global: pengalaman perjalanan yang lebih personal, kebutuhan kualitas dan keberlanjutan, serta transformasi digital dan pemanfaatan AI. Kebijakan pariwisata akan lebih terfokus, didukung data dan teknologi, termasuk integrasi sistem pembayaran digital nasional.(*)