TPL_PIDII_SKIP_TO_CONTENT
PIDII NATIONAL PORTAL

Jelajahi Potensi Indonesia

Satu Peta, Semua Informasi, Seluruh Peluang

38ProvinsiSeluruh Indonesia
🗺
514Kabupaten/KotaSeluruh Indonesia
25+Kategori DataPotensi & Sektor
1000+Data TerhubungSumber Terintegrasi
Ilustrasi motor listrik nasional. (LISTRIK INDONESIA)
Ilustrasi motor listrik nasional. (LISTRIK INDONESIA)

PONTIANAK POST – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengungkap empat kriteria utama yang harus dipenuhi kendaraan dalam pengembangan Motor Listrik Nasional (Molinas). Kriteria tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun ekosistem kendaraan listrik nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri.

Asisten Deputi Pengembangan Industri Kemenko Perekonomian Atong Soekirman mengatakan motor yang masuk kategori Molinas harus memenuhi empat persyaratan. “Pertama, memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di atas 60 persen,” ujar Atong di Jakarta, Kamis (20/8).

Atong menjelaskan, TKDN tersebut mencakup sejumlah komponen utama, antara lain power trainframe/structure, serta plastik dan body panel. Selain TKDN di atas 60 persen, terdapat tiga persyaratan lain yang harus dipenuhi. Berikut empat kriteria Motor Listrik Nasional:

  1. TKDN di atas 60 persen, termasuk komponen utama seperti power trainframe/structure, plastik dan body panel.
  2. Desain dan rekayasa dikembangkan di dalam negeri.
  3. Menggunakan baterai berbasis nikel untuk mendukung hilirisasi nasional.
  4. Memiliki harga terjangkau sesuai kebutuhan pasar domestik.

Menurut Atong, Molinas tidak sekadar diarahkan untuk menghasilkan produk kendaraan listrik. Program tersebut juga ditujukan untuk membangun kemampuan nasional dalam desain, engineering, manufaktur, teknologi hingga rantai pasok.

Pasar Motor Listrik Indonesia Masih Terbuka Lebar

Peluang pengembangan Molinas dinilai masih besar karena jumlah sepeda motor konvensional di Indonesia mencapai 145,25 juta unit. Sementara itu, penetrasi motor listrik baru mencapai 229.554 unit hingga Desember 2025. Kesenjangan tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan pasar motor listrik masih sangat besar. Pemerintah bahkan memproyeksikan permintaan motor listrik mencapai 1,5 juta unit pada 2028. “Total permintaan motor listrik 2028 diperkirakan mencapai 1,5 juta unit,” kata Atong.

Molinas Diproyeksikan Hemat Subsidi BBM Rp82,2 Triliun

Program Molinas juga dikaitkan dengan upaya mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak (BBM). Atong sebelumnya menyampaikan program tersebut diperkirakan dapat menghemat subsidi BBM sebesar Rp82,2 triliun sepanjang 2027–2037. Proyeksi itu menggunakan asumsi sebanyak 11 juta unit motor listrik Molinas beroperasi pada 2037.

Selain penghematan subsidi BBM, ekosistem Molinas diperkirakan menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp150 triliun sepanjang 2026–2031. Program tersebut juga diproyeksikan menciptakan sekitar 215 ribu lapangan kerja di sektor manufaktur, komponen, baterai dan infrastruktur pengisian daya. Dari sisi perdagangan, Molinas diharapkan memperkuat neraca perdagangan melalui substitusi impor minyak yang diperkirakan mencapai Rp45 triliun.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meresmikan motor listrik nasional beserta ekosistem pendukungnya di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA), Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026).

Dalam acara tersebut, Prabowo secara resmi meluncurkan Molinas dan ekosistem pendukungnya. “Bismillahirrahmanirrahim, pada siang hari ini, Kamis, 13 Agustus 2026, dengan rahmat Tuhan Yang Maha Besar, secara resmi, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, luncurkan motor listrik nasional beserta ekosistem pendukung,” kata Prabowo.

Peluncuran tersebut dihadiri jajaran menteri dan perwakilan dunia usaha, termasuk pelaku industri yang telah memproduksi motor listrik secara massal. Pengembangan Molinas selanjutnya diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan penggunaan kendaraan listrik di dalam negeri, tetapi juga memperkuat kemampuan industri nasional dari sisi teknologi, produksi, komponen hingga rantai pasok.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara