TPL_PIDII_SKIP_TO_CONTENT
PIDII NATIONAL PORTAL

Jelajahi Potensi Indonesia

Satu Peta, Semua Informasi, Seluruh Peluang

β™œ
38ProvinsiSeluruh Indonesia
πŸ—Ί
514Kabupaten/KotaSeluruh Indonesia
β—‡
25+Kategori DataPotensi & Sektor
β†—
1000+Data TerhubungSumber Terintegrasi

Arab Saudi menemukan sekitar 110 juta ton bijih yang mengandung mineral tanah jarang (rare earth) dan uranium di kawasan Jabal Sayid, wilayah Madinah. Temuan ini diumumkan hanya beberapa bulan setelah Riyadh dan Washington memperkuat kerja sama di bidang energi nuklir sipil.

Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengungkapkan temuan tersebut dalam Sidang Umum Reguler ke-70 Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

β€œEksplorasi dan kajian geologi di proyek Jabal Sayid di Madinah mengungkapkan sumber daya yang diperkirakan sekitar 110 juta ton bijih dengan konsentrasi tinggi mineral tanah jarang, terutama unsur-unsur berat, disertai konsentrasi uranium yang menjanjikan,” kata Pangeran Abdulaziz dilansir Arab News, Senin.

Temuan tersebut berpotensi memperkuat ambisi Arab Saudi untuk membangun kapasitas energi nuklirnya sekaligus menguasai rantai pasok mineral strategis.

Momentum itu muncul setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi menandatangani kesepakatan kerja sama nuklir sipil pada 22 Juli. Kesepakatan ditandatangani Menteri Energi AS Chris Wright dan Pangeran Abdulaziz.

Departemen Energi AS menyebut kesepakatan tersebut menjadi landasan hukum bagi kemitraan bernilai miliaran dolar yang akan berlangsung selama beberapa dekade. Kesepakatan itu juga membuka akses lebih besar bagi perusahaan-perusahaan AS terhadap program energi nuklir sipil Arab Saudi.

Yang membuat temuan Jabal Sayid strategis bukan hanya volumenya, tetapi kombinasi dua jenis sumber daya yang terdapat di kawasan tersebut. Selain kandungan mineral tanah jarang dalam konsentrasi tinggi, eksplorasi juga menemukan uranium dalam jumlah yang dinilai menjanjikan.

Analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), yang mengutip data Kementerian Perindustrian dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi serta perusahaan tambang negara Maaden, memperkirakan Jabal Sayid memiliki sekitar 31 ribu ton sumber daya uranium.

Lokasi tersebut juga diperkirakan mengandung sekitar 552 ribu ton mineral tanah jarang berat, seperti disprosium dan terbium, serta sekitar 355 ribu ton mineral tanah jarang ringan, termasuk neodimium dan praseodimium.

Kombinasi tersebut memiliki arti strategis. Uranium merupakan bahan baku penting dalam siklus bahan bakar nuklir, sementara mineral tanah jarang dibutuhkan untuk berbagai teknologi maju, mulai dari kendaraan listrik dan elektronik hingga turbin angin serta sistem pertahanan.

CSIS menilai kombinasi sumber daya tersebut menempatkan Arab Saudi pada posisi yang unik untuk mengembangkan siklus bahan bakar nuklirnya sendiri. Riyadh juga berpotensi memasok sebagian material strategis ke Amerika Serikat.

Jabal Sayid berada sekitar 350 kilometer di timur laut Jeddah, wilayah Madinah. Kawasan tersebut diperkirakan termasuk salah satu deposit mineral tanah jarang paling bernilai di dunia.

Diperkuat kemitraan dengan AS

Pengembangan mineral strategis Arab Saudi mendapatkan dorongan besar setelah kunjungan Putra Mahkota Mohammed bin Salman ke Amerika Serikat pada November 2025.

Dalam kunjungan tersebut, Riyadh dan Washington memperdalam kerja sama di bidang mineral kritis, logam, dan uranium. Salah satu kesepakatan melibatkan Maaden dan perusahaan AS MP Materials.

Kedua negara juga menyusun Kerangka Strategis untuk Kerja Sama Mineral Kritis, Logam, dan Uranium.

Dalam kerangka tersebut, Departemen Pertahanan AS menyepakati pembiayaan 49 persen pembangunan fasilitas pengolahan mineral tanah jarang di Arab Saudi. Maaden akan memegang 51 persen saham pengendali, sedangkan MP Materials menjadi mitra.

MP Materials sendiri mengoperasikan satu-satunya tambang dan fasilitas pengolahan mineral tanah jarang di Amerika Serikat.

Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana Riyadh tidak sekadar berupaya menemukan sumber daya mineral, tetapi juga membangun rantai pengolahan dan pemanfaatannya bersama mitra strategis, terutama Amerika Serikat.

Nilai mineral Saudi mencapai 100 miliar dolar

Arab Saudi sebelumnya telah meningkatkan eksplorasi mineral sebagai bagian dari upaya diversifikasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap minyak.

Saudi Press Agency (SPA) melaporkan pada November 2025 bahwa nilai temuan unsur tanah jarang Arab Saudi mencapai sekitar 100 miliar dolar AS, meningkat 90 persen dibandingkan 2018.

Saudi Geological Survey juga mengidentifikasi dua wilayah eksplorasi tahap lanjut dengan estimasi sumber daya mencapai 644 juta ton.

Dengan temuan terbaru di Jabal Sayid, Arab Saudi berpotensi memiliki posisi yang semakin penting dalam perebutan mineral strategis dunia.

Lebih dari sekadar tambang baru, keberadaan uranium di kawasan yang sama dengan deposit rare earth memberikan dimensi baru bagi strategi Riyadh. Temuan tersebut hadir ketika Arab Saudi tengah memperkuat kerja sama nuklir dengan Amerika Serikat dan berupaya membangun industri energi serta teknologi tinggi di dalam negeri.

Jika dikembangkan lebih lanjut, sumber daya tersebut dapat menjadi salah satu fondasi bagi ambisi Riyadh untuk tidak hanya menjadi kekuatan energi berbasis minyak, tetapi juga pemain dalam industri nuklir dan rantai pasok mineral strategis global.