Tekanan krisis biaya hidup warga Inggris kembali mengencang. Laju inflasi tahunan di Negeri Raja Charles tersebut merangkak naik ke posisi 3,1 persen pada Agustus 2026, berpusat dari meroketnya harga bahan bakar minyak (BBM) di pasaran.
Laporan resmi Kantor Statistik Nasional Inggris (Office for National Statistics/ONS) yang dirilis Rabu (16/9/2026) mencatat, capaian tersebut menjadi rekor inflasi pertama yang menembus angka 3 persen sejak Maret lalu. Angka ini sejalan dengan perkiraan para ekonom yang dihimpun CNBC.
Biang kerok utama lonjakan ini tak lain adalah biaya transportasi darat. ONS melaporkan harga bahan bakar kendaraan melonjak drastis hingga 23 persen secara tahunan (year-on-year).
Pengendara di Inggris harus merogoh kocek jauh lebih dalam selama dua bulan terakhir. Sepanjang Juli hingga Agustus, harga rata-rata bensin tercatat melambung 9,1 pence (sekitar 0,12 dolar AS) per liter. Kenaikan ini membawa harga bensin mencapai titik resah tertingginya sejak November 2022.
Nasib tak jauh beda dialami pengguna kendaraan bermesin diesel. Rata-rata harga solar terkerek naik hingga 14,2 pence per liter hanya dalam kurun waktu satu bulan pada Agustus.
Organisasi otomotif Inggris, RAC, melambaikan tanda bahaya. Menurut analisis mereka, harga bensin dan solar melesat kencang sejak pecahnya perang Iran. Dampaknya, harga kedua jenis BBM tersebut kini berada di level tertinggi yang belum pernah terlihat dalam empat tahun terakhir.
Kondisi makin diperparah oleh pergerakan harga minyak mentah dunia yang terus tertahan kokoh di atas level 100 dolar AS per barel.
Sebagai negara pembeli bersih (net importir) energi, Inggris sangat ringkih terhadap guncangan pasar global. Lonjakan harga BBM di SPBU langsung merembet ke sektor domestik.
Data ONS memperlihatkan biaya tagihan listrik, gas, serta bahan bakar rumah tangga lainnya melompat 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Padahal, pada Juli sebelumnya, inflasi sempat bertengger di angka 2,9 persen setelah pemerintah menaikkan batas atas tarif energi.
Situasi ini kian memperberat beban warga Inggris yang belum sepenuhnya pulih dari krisis biaya hidup pasca-pandemi, serta buntut panjang peningkatan harga energi akibat invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022 lalu.