TPL_PIDII_SKIP_TO_CONTENT
PIDII NATIONAL PORTAL

Jelajahi Potensi Indonesia

Satu Peta, Semua Informasi, Seluruh Peluang

38ProvinsiSeluruh Indonesia
🗺
514Kabupaten/KotaSeluruh Indonesia
25+Kategori DataPotensi & Sektor
1000+Data TerhubungSumber Terintegrasi
Para wisatawan yang mengunjungi Desa Xitou di Kota Longquan, Provinsi Zhejiang, Tiongkok. (Foto: Longquan Wangou Taoxichuan)
Para wisatawan yang mengunjungi Desa Xitou di Kota Longquan, Provinsi Zhejiang, Tiongkok. (Foto: Longquan Wangou Taoxichuan)

Ketika Ruveena D Souza, 37, memutuskan memperpanjang kunjungannya di China selama dua pekan pada November lalu, ia tak hanya menyambangi destinasi wisata yang lazim.

Beijing, Xi’an, dan Chengdu masuk dalam rencana perjalanannya, begitu pula Xingping, kota kecil di Guilin, China selatan, yang terkenal dengan bentang alam karst yang memukau dan Yellow Cloth Shoal, bagian Sungai Li yang tergambar pada uang kertas 20 yuan.

D Souza menghabiskan dua hari di Xingping, menyusuri Sungai Yulong dengan rakit bambu dan mengunjungi Kota Tua Xingping, tempat ia menjelajahi kedai kopi dan melihat-lihat pedagang lokal yang menjual mainan kayu.

Kota itu “sangat santai”, katanya, jauh berbeda dari keramaian Beijing. Warga setempat juga “sangat ramah”, katanya. “Mereka sangat penasaran dengan kami karena saya rasa tidak banyak turis dari India,” tambahnya.

“Mereka menghampiri kami dan bertanya kami berasal dari mana.” Warga Singapura Chleo Lee, mengunjungi Provinsi Yunnan bersama keluarganya pada April tahun ini.

Mereka mengikuti tur berpemandu selama 10 hari, menjelajahi desa-desa dan berbagai tempat wisata di Shangri-La, Dali, dan Lijiang. Itu bukan kunjungan pertama Lee ke China. Sebelumnya, ia pernah mengunjungi kota-kota seperti Chengdu, Chongqing, dan Zhangjiajie, serta Beijing dan Guangzhou.

Ketertarikan orang tuanya terhadap Yunnan muncul setelah menonton video perjalanan tentang wilayah itu, terutama dari kreator konten yang mengunjungi berbagai tempat wisata. Teman-teman keluarga juga berbagi tips dan pengalaman mereka saat mengunjungi Yunnan dan Dali, kata Lee.

MENINGKATNYA MINAT TERHADAP PEDESAAN CHINA

China menerima hampir 23 juta wisatawan asing pada paruh pertama 2026, menurut statistik yang dirilis Administrasi Imigrasi Nasional (NIA) pada Juli, naik 20,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Seiring meningkatnya perjalanan internasional ke China, ada tanda-tanda sebagian wisatawan mulai melirik destinasi di luar pusat wisata tradisional negara itu. Laporan agen perjalanan Trip.com pada 2025 mendapati, pemesanan penginapan di pedesaan yang berafiliasi dengannya oleh wisatawan asing naik 50 persen secara tahunan.

“Mengunjungi pedesaan China” mulai menjadi pilihan baru bagi turis asing, kata agen itu, dengan Australia, Jerman, Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat termasuk negara asal wisatawan terbanyak.

Tren ini juga terjadi di tengah pesatnya pertumbuhan wisata pedesaan di kalangan wisatawan domestik. Sekitar 793 juta kunjungan ke destinasi pedesaan tercatat pada kuartal pertama 2026, naik 12,2 persen secara tahunan, menurut perkiraan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang dikutip Xinhua.

Dalam laporan 3 Juli, media yang berafiliasi dengan Pemerintah China, China Daily, mencatat, semakin banyak turis asing memilih mengunjungi kota-kota kecil, county, dan kota pedesaan yang “menawarkan pengalaman lebih mendalam tentang kehidupan sehari-hari di China”.

Mereka mengunjungi destinasi yang kurang dikenal, kata laporan itu, yakni “tempat-tempat dengan karakter lokal yang kuat, komersialisasi lebih rendah, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari”.

Tren ini juga semakin terdorong oleh kreator di platform media sosial seperti TikTok dan Xiaohongshu. Pedesaan China “tengah menjadi sensasi di dunia maya”, tulis tabloid milik pemerintah People’s Daily dalam laporan yang terbit pada 4 Juni.

Laporan itu menyebut “semakin banyak kreator konten dari luar negeri” beralih dari destinasi wisata ikonis seperti Tembok Besar di Beijing dan The Bund di Shanghai, dan memilih mengunjungi “sawah terasering terpencil, desa-desa berusia ratusan tahun, dan lahan pertanian yang masih aktif” di pedesaan China. “Pengunjung internasional mendapat jalan yang lebih jelas untuk terhubung dengan dan benar-benar memahami China,” kata laporan itu.

“Dengan kebijakan masuk China yang semakin mudah diakses dan layanan yang ditingkatkan, lebih banyak pengunjung internasional diperkirakan akan menjelajahi sendiri pedesaan negara ini, melihat dengan mata kepala sendiri dan merasakan langsung vitalitas modernisasi China.”

Akademisi pariwisata mengatakan, program revitalisasi pedesaan China telah membuat desa-desa lebih mudah dijangkau dan menarik, meski kendala bahasa, akses transportasi, dan ekosistem digital China yang luas masih menjadi hambatan bagi banyak turis asing.

Wu Maoying, profesor di Zhejiang University, mengatakan kepada CNA bahwa strategi tersebut telah meningkatkan infrastruktur desa dan akses ke daerah yang sebelumnya terpencil secara signifikan. “Perluasan jaringan kereta cepat dan peningkatan jalan pedesaan membuat banyak desa kini hanya berjarak beberapa jam dari kota-kota besar,” kata Wu, yang juga profesor madya manajemen pariwisata dan perhotelan.

Daya tarik pedesaan China juga terletak pada suasana perdesaannya, katanya. Turis asing, terutama yang sudah sering bepergian, “semakin mencari pengalaman ‘slow travel’”. “Berbeda dengan kota-kota besar China yang begitu padat dengan rangsangan, pedesaan China menawarkan ketenangan,” tambah Wu.

Lok Li Wen, turis asal Singapura yang mengunjungi Dali, kota bersejarah dan indah di Provinsi Yunnan yang terkenal dengan budaya tradisional etnis Bai dan cuaca sejuk, mengatakan, ritme kehidupan di sana “lebih lambat” dibanding kota-kota besar seperti Shanghai dan Suzhou.

“Saya dan teman-teman bisa duduk di kafe selama beberapa jam sebelum berangkat ke tujuan berikutnya,” katanya. Quan Na, profesor madya di Guilin Tourism University, menuturkan, pengalaman budaya di pedesaan China “tak tertandingi”.

Kegiatan seperti belajar membuat tembikar dari perajin lokal, memasak resep keluarga, atau mengikuti festival yang telah berlangsung selama berabad-abad merupakan “tradisi yang hidup”, kata Quan. “Turis tidak hanya mengamati, mereka ikut berpartisipasi,” tambahnya.

Wu dari Zhejiang University mengatakan kepada CNA bahwa salah satu ciri utama wisata pedesaan adalah “keramahan tulus warga setempat”. Warga yang kerap mengelola penginapan keluarga menyambut tamu dengan hangat dan terbuka.

“(Ini memungkinkan) pengunjung merasakan ‘China yang sebenarnya’ lewat makan bersama dan interaksi sehari-hari, menciptakan pertukaran budaya yang lebih sulit ditemukan di hotel-hotel kota yang impersonal.” Lee, yang bepergian ke Yunnan bersama keluarganya, menghadiri jamuan yang digelar masyarakat Mosuo, kelompok etnis minoritas setempat, di Danau Lugu. Di sana, wisatawan mengikuti pesta api unggun di ruang terbuka, tempat para pria dan perempuan berkumpul untuk bernyanyi dan menari. Tur itu juga mencakup jamuan hotpot di sebuah desa di Shangri-La.

“Ada kegiatan dan pertunjukan lain, dan kami bahkan bisa mengalungkan karangan bunga kepada warga desa,” katanya. Bagi D Souza dari India, China mungkin identik dengan kota-kota besar dan gedung pencakar langit menjulang, tetapi ia juga ingin merasakan sisi lain negara itu. “(Sering kali) kita membayangkan China sebagai kota-kota besar dan gedung pencakar langit, tetapi kami juga ingin melihat sisi lainnya,” katanya.

“Kami ingin mengunjungi tempat-tempat terkenal yang biasanya masuk daftar wajib turis, tetapi juga merasakan suasana santai, lebih rileks, dan tidak terlalu ramai,” tambahnya. Salah satu hal yang paling dinikmati D Souza adalah bertemu warga Xingping yang ramah, yang mengajaknya mengobrol dan berfoto bersama. “Mereka sangat penasaran mengapa kami ada di sana,” katanya. “Kami akhirnya benar-benar mengobrol panjang.”

KENDALA BAHASA DAN TANTANGAN LAIN

Namun, menjelajahi pedesaan China memiliki tantangan tersendiri, mulai dari kendala bahasa dan sulitnya mencapai daerah terpencil hingga pembayaran di tempat-tempat yang belum tentu menerima kartu kredit asing.

“Kalau tidak ada pemandu wisata, kami tidak akan tahu bagaimana pergi ke tempat-tempat ini,” kata Lee, yang mengunjungi Yunnan bersama keluarganya. Meski keluarganya bisa berbahasa Mandarin, bahasa yang digunakan para pemandu sedikit lebih rumit dan juga bercampur dengan dialek setempat. Kadang-kadang hal itu cukup “membingungkan”, katanya.

Kendala bahasa menjadi tantangan besar bagi D Souza saat mengunjungi pedesaan China.

“Kami harus menggunakan aplikasi penerjemah karena kebanyakan orang tidak bisa berbahasa Inggris,” katanya.

Ia juga harus mengunduh sederet aplikasi percakapan dan pembayaran China.

“(Kami) harus mengunduh AMaps, Didi, Alipay, WeChat ... dan banyak aplikasi ini tidak tersedia di Apple App Store atau Play Store di India,” katanya. Ia menambahkan VPN juga tidak selalu berfungsi di China.

BERADAPTASI DENGAN TURIS ASING

Banyak destinasi budaya China yang paling autentik masih berada di daerah terpencil, kata Wu dari Zhejiang University, sehingga turis asing kerap hanya memiliki pilihan tempat yang lebih mudah dijangkau dan lebih komersial.

Meski demikian, meningkatnya arus turis asing ke pedesaan China membuka peluang baru bagi masyarakat dan pelaku usaha setempat, kata Wu. Namun, tantangannya adalah membantu pelaku usaha kecil menyesuaikan layanan dengan kebutuhan pengunjung internasional.

Platform perjalanan besar seperti Trip.com Group dapat membantu menjembatani kesenjangan itu, tambahnya, dengan memberikan insentif dan dukungan agar bisnis pedesaan lebih siap melayani wisatawan internasional.

Ini bisa dilakukan dengan meningkatkan visibilitas usaha yang menerima kartu kredit asing, menyediakan layanan dwibahasa, atau menawarkan pengalaman budaya bersertifikat. “Dengan memasukkan kriteria ini ke dalam peringkat pencarian, lencana, atau kampanye promosi, platform dapat mendorong ribuan usaha kecil di pedesaan agar siap melayani wisatawan internasional,” kata Wu.

Pendekatan semacam itu dapat membuat meningkatnya permintaan dari wisatawan asing mendorong perbaikan dari tingkat akar rumput. “Ini menciptakan jalur berbasis pasar, dengan permintaan wisatawan asing yang disalurkan melalui platform secara langsung mendorong penyedia layanan di pedesaan meningkatkan standar mereka,” katanya.