Pemerintah Kota Batu membuka peluang kolaborasi internasional guna memperkuat hilirisasi riset yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya di sektor pertanian dan pariwisata.
Kerja sama tersebut dijalin bersama Graduate School of International Development (GSID) Nagoya University, Jepang, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Kolaborasi ini akan diawali dengan rencana pengiriman mahasiswa magister (S2) ke Kota Batu pada September 2026.
Program tersebut menjadi bagian dari pembelajaran lapangan bagi mahasiswa Jepang sekaligus ruang kolaborasi strategis dengan Pemerintah Kota Batu dalam mengembangkan model pembangunan berbasis potensi lokal.
Adaptasi Praktik Baik Jepang untuk Penguatan Sektor Lokal
Dalam kerja sama akademis ini, berbagai praktik baik dari Jepang yang relevan akan diadaptasi. Salah satunya konsep Michi-no-Eki, yakni fasilitas terpadu di jalur utama yang berfungsi sebagai rest area, pusat informasi wisata, sekaligus etalase promosi produk lokal dan UMKM.
Selain itu, diperkenalkan pula pengembangan pertanian berbasis pengalaman wisata atau experiential tourism, hingga strategi pengemasan komoditas unggulan bernilai tinggi seperti mangga premium dari Prefektur Miyazaki yang dikenal memiliki standar kualitas ketat dan segmentasi pasar eksklusif.
Model-model tersebut dinilai sejalan dengan karakter Kota Batu yang memiliki kekuatan pada sektor hortikultura sekaligus destinasi wisata. Melalui pendekatan riset terapan, potensi tersebut diharapkan dapat diolah menjadi produk dan layanan dengan nilai tambah lebih tinggi.
Fokus Hilirisasi Riset dan Implementasi Nyata
Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan bahwa kolaborasi ini harus menghasilkan output yang jelas dan aplikatif. Riset yang dilakukan tidak boleh berhenti pada tataran konsep atau publikasi ilmiah semata, melainkan diterjemahkan menjadi kebijakan dan program konkret.
“Kolaborasi internasional harus menjawab kebutuhan daerah. Kami ingin hasil riset itu benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama petani dan pelaku pariwisata,” tegas Cak Nur, Jumat (20/2/2026).
Ia menekankan pentingnya hilirisasi riset dalam kerja sama tersebut, sehingga inovasi yang dihasilkan dapat direplikasi dan diintegrasikan dalam program pembangunan daerah. Sejak tahap awal perencanaan, perangkat daerah terkait diminta terlibat aktif agar sinergi lintas sektor dapat terbangun secara optimal.
Ke depan, penjajakan kerja sama ini akan ditindaklanjuti melalui penyusunan rencana kerja bersama yang lebih teknis, terukur, dan berorientasi pada hasil nyata.
“Kami tidak ingin kerja sama ini hanya menjadi agenda rutin. Harus ada output yang jelas, terukur dan bisa langsung diimplementasikan,” tegasnya.














Comments powered by CComment