Nokia kembali menegaskan posisinya dalam peta kekuatan teknologi dunia. Setelah terpukul oleh disrupsi iPhone dan ekosistem android, perusahaan telepon seluler (ponsel) asal Finlandia itu kini bangkit melalui kemitraan dengan Nvidia.
Pada kerja sama itu, Nokia bertransformasi dari produsen perangkat konsumen (ponsel) menuju penyedia infrastruktur jaringan dan pusat data untuk komputasi awan (cloud) dan kecerdasan buatan (AI).
Nokia mengandalkan keunggulan teknologi jaringan optik dan sistem pengelolaan data untuk memperkuat perannya. Nvidia menanamkan investasi hingga US$1 miliar (Rp 16,7 triliun) untuk mengakuisisi sekitar 2,9% saham Nokia, menurut laporan Financial Times pada awal pekan ini. Kongsi strategis tersebut difokuskan pada pengembangan jaringan telekomunikasi berbasis AI.
Manajemen Nvidia menyebutkan kerja sama dengan Nokia akan mempercepat adopsi kecerdasan buatan pada jaringan telekomunikasi dan meningkatkan efisiensi operasional operator di seluruh dunia. Presiden dan CEO Nokia, Justin Hotard, mengatakan kemampuan beradaptasi menjadi fondasi utama perusahaan.
’’Nokia memiliki warisan panjang dalam beradaptasi. Kemampuan untuk bergeser dan menyesuaikan diri sudah menjadi bagian dari DNA Nokia,’’ katanya seperti dikutip Selasa (6/1/2026).
Peralihan Nokia ke sektor infrastruktur AI itu juga ditopang langkah ekspansi sebelumnya. Mereka mengakuisisi Infinera, penyedia jaringan optik asal AS. Dana akuisisi ini mencapai US$2,3 miliar atau setara Rp38,4 triliun. Keputusan tersebut memperkuat posisi Nokia di jaringan pusat data dan transmisi berkecepatan tinggi, fondasi utama pengembangan AI.
Saham Menguat
Arah baru itu langsung tecermin di pasar. Saham Nokia menguat setelah pengumuman kemitraan tersebut. Lembaga pemeringkat Moody’s pun mengubah prospek Nokia menjadi positif dengan menyoroti penguatan bisnis jaringan dan pusat data.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa investasi AI tetap sarat volatilitas dan diwarnai persaingan ketat dengan pemain global lain. Kebangkitan Nokia tidak bisa serta-merta berjalan mulus dan sangat bergantung pada konsistensi eksekusi strategi jangka panjang. (*)














Comments powered by CComment