PT PLN (Persero) meminta maaf kepada masyarakat Aceh atas kendala teknis yang membuat proses pemulihan listrik di sejumlah wilayah belum berjalan sesuai harapan.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan bahwa kondisi lapangan jauh lebih kompleks dari perkiraan awal. Jalur transmisi Arun Lhokseumawe–Banda Aceh, yang menjadi urat nadi penyaluran listrik di wilayah tersebut, masih menghadapi gangguan berat sehingga pasokan belum dapat sepenuhnya dipulihkan.
Darmawan menyebut Banda Aceh masih mengalami defisit pasokan sekitar 40 megawatt.
Kekurangan itu berimbas pada pemadaman bergilir yang hingga kini masih terjadi, meski upaya pemulihan terus dipercepat.
Menurutnya, kerusakan yang terjadi pada infrastruktur transmisi membutuhkan penanganan lebih detail dan waktu pengerjaan yang tidak singkat, terutama karena beberapa lokasi berada di medan sulit dan rawan cuaca.
Untuk mempercepat stabilisasi pasokan, PLN menyiapkan langkah darurat berupa pengiriman genset tambahan ke sejumlah titik beban.
Upaya ini ditargetkan membantu mengurangi durasi pemadaman selama lima hari ke depan.
“Kami bekerja 24 jam. Tim di lapangan menghadapi tantangan besar, mulai dari akses yang terbatas hingga kondisi alam yang tidak mendukung. Tapi seluruh upaya sedang kami maksimalkan,” ujar Darmawan.
Respon cepat
Seperti diketahui, kerusakan infrastruktur kelistrikan akibat banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh tergolong parah karena menyentuh jaringan utama, termasuk transmisi, gardu induk, hingga pembangkit.
Di tengah kondisi tersebut dan akses lokasi yang menantang pascabencana, proses pemulihan listrik dinilai terbilang cepat.
Akademisi sekaligus Wakil Direktur IV Politeknik Negeri Lhokseumawe, Muhammad Arifai mengatakan bahwa tantangan utama pemulihan saat ini adalah kombinasi antara kerusakan infrastruktur yang berat dan keterbatasan akses ke titik-titik terdampak.
“Tantangan terbesarnya ada pada rusaknya infrastruktur dan akses yang sulit. Namun di tengah kondisi itu, ritme pemulihannya tetap terbilang cepat,” ujar Arifai melalui keterangan tertulis, Rabu (10/12/2025).
Ia menjelaskan, setelah akses mulai terbuka dan perbaikan fisik dilakukan, tahapan paling krusial dalam pemulihan listrik adalah proses sinkronisasi antara pembangkit dan sistem jaringan.
“Sinkronisasi ini tidak bisa tergesa-gesa. Tegangan, frekuensi, dan fase harus benar-benar presisi. Kalau dipaksakan, risikonya bisa menimbulkan gangguan lanjutan,” tegasnya.
Sebelum sinkronisasi dilakukan, seluruh peralatan yang sempat terendam banjir harus melalui proses pengeringan, pembersihan, inspeksi, dan pengujian untuk memastikan sistem aman saat kembali dioperasikan.
Usai sinkronisasi, langkah lanjutan dilakukan untuk menjaga keandalan sistem, seperti penyesuaian proteksi, pemantauan melalui SCADA, serta penyeimbangan beban antarwilayah agar tidak terjadi kelebihan beban.
Arifai juga menegaskan bahwa khusus di wilayah terdampak longsor, pekerjaan kelistrikan baru dapat dilakukan setelah kondisi tanah benar-benar stabil.
“Kalau tanah belum stabil lalu jaringan langsung dipasang, risikonya rusak kembali. Karena itu pekerjaan sipil dan kelistrikan harus berjalan seiring,” katanya.
Meski pemulihan tidak bisa dilakukan secara instan karena menyangkut keselamatan sistem, Arifai menilai percepatan pemulihan tetap nyata karena berbagai pekerjaan dilakukan secara paralel.
“Prosesnya memang bertahap, tapi percepatannya terukur dan terlihat di lapangan,” tutupnya.














Comments powered by CComment