Banjir besar yang kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatera memunculkan keprihatinan mendalam dari para ahli lingkungan. Kepala Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember Dr Latifa Mirzatika Al-Rosyid menyebut bencana ini sebagai alarm keras atas kerusakan ekologis nasional yang semakin mengkhawatirkan.
Menurutnya, kondisi daerah aliran sungai (DAS), tata ruang, hingga dampak perubahan iklim telah berada pada tahap paling rawan. Dr Latifa menegaskan banjir tidak hanya disebabkan hujan ekstrem, tetapi merupakan akumulasi persoalan lingkungan yang dibiarkan berlarut.
Sumatera, yang dalam dua dekade terakhir mencatat laju deforestasi tinggi, kini mengalami penurunan drastis daya serap tanah. Hilangnya tutupan hutan mempercepat erosi dan menyebabkan sedimentasi sungai yang memperparah aliran permukaan setiap kali hujan turun. “Ketika DAS rusak, hujan intensitas sedang pun sudah cukup memicu banjir. Apalagi jika curah hujan ekstrem seperti saat ini,” ujarnya. Selain faktor ekologis, Dr Latifa menyoroti pesatnya urbanisasi di kota-kota besar Sumatera yang tidak diikuti pembaruan sistem drainase. Banyak kawasan permukiman berdiri di bantaran sungai, sementara sampah rumah tangga yang menumpuk kerap menyumbat aliran air. “Banjir ini bukan hanya fenomena alam, tetapi konsekuensi dari pembangunan serta kombinasi antara rusaknya DAS dan anomali iklim membuat banjir sangat sulit dikendalikan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan dampak lanjutan yang sering luput dari perhatian, yaitu penurunan kualitas air setelah banjir. Genangan membawa lumpur, limbah domestik, hingga limpasan septic tank yang mencemari sumur dan sungai. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit berbasis air seperti diare, kolera, disentri, serta leptospirosis. Menurutnya, fase pascabencana adalah masa paling kritis karena kebutuhan air bersih meningkat sementara kualitasnya menurun drastis.
Dr Latifa menilai banyak aspek penting dalam penanganan banjir yang belum maksimal, seperti lemahnya pendekatan terpadu dari hulu ke hilir, minimnya penggunaan solusi ekologis, hingga kurangnya pembaruan data hidrometeorologi. Ia menegaskan perlunya perencanaan yang melibatkan akademisi sejak awal, bukan hanya saat bencana terjadi.
Tindakan darurat seperti klorinasi sumur, pembersihan sedimen, dan optimalisasi distribusi air bersih harus menjadi prioritas setelah banjir surut. Sebagai langkah jangka panjang, ia mendorong penerapan rekayasa lingkungan berbasis DAS serta integrasi solusi teknis dan ekologis. Rehabilitasi hutan, restorasi vegetasi bantaran sungai, pembangunan kolam retensi dan wetland buatan, serta modernisasi drainase berbasis analisis hidrologi dinilai penting untuk mencegah banjir serupa terulang. (ika/dhi/nur)














Comments powered by CComment