Ratusan pelaku pariwisata di Jawa Tengah berkumpul dalam ajang Jateng On Matching (JOM) 2025 yang digelar di Hotel Front One HK Resort, Jl Kesambi Semarang, Rabu (10/12). Selama dua hari (10-11/12), acara yang diinisiasi Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Jawa Tengah itu, mempertemukan pelaku parawisata dengan stake holder untuk saling berinteraksi.
Diharapkan hal itu dapat menunjang pariwisata di Jawa Tengah. Ketua DPD Astindo Jawa Tengah Dian Dalu Akirta, menyampaikan, even diikuti oleh palaku pariwisata. Mereka para saller terdiri mulai dari industri perhotelan, restoran, hingga pengelola obyek wisata, berjumlah sekitar 60 perusahaan yang tergabung dalam 37 table. Sedangkan dari buyer yang kebanyak dari agen travel, hadir 85 perusahaan.
Sebanyak 35 buyer tersebut datang dari luar provinsi. Sedangkan 50 buyer lainnya berasal dari kota/kabupaten di Jawa Tengah. Dian mengatakan, JOM 2025 menyajikan berbagai kegiatan. Di antaranya yaitu seminar bertajuk "Menuju travel agent hybrid".
Sebab, menurutnya, di tengah persaingan global dan perkembangan teknologi, agen travel dituntut untuk bisa mengikuti perkembangan digital. “Sangat tepat tema tersebut diangkat. Harapannya semua agen travel di Jawa Tengah yang masih konvensional berbenah menyiapkan pasar. Mereka harus siap menuju travel agent digital agar tidak ketinggalan dengan agen-agen global yang sudah go digital,” katanya.
Dikatakan Dian, dalam JOM 2025, diisi dengan forum diskusi pariwisata yang dihadiri buyer, seller, dan stakeholder wisata. Mereka berada dalam satu meja.
“Di sini kita pertemukan untuk mendiskusikan kelanjutan pariwisata ini. Bagaimana acara agar bisa lebih tumbuh dan ada peningkatan pariwisata Jawa Tengah maupun nasional. Dari situ kita harapkan ada acuan atau rujukan dari para pelaku wisata dan pemangku kebijakan,” terangnya.
Dalam even JOM 2025, lanjut Dian, pada hari kedua, 11 Desember, para buyer diperkenalkan beberapa obyek wisata yang ada di Kota Semarang dalam sesi funtrip.
“Untuk buyer yang kebanyakan dari luar daerah dan provinsi, kita ajak ke kunjungan ke desa wisata di Gunungpati Semarang. Kita akan eksplor empat desa wisata yang akan memberikan pengalaman, bahwa di Semarang ini sudah ada tempat pariwisata dengan boat wisata di Waduk Jatibarang,” terang dia,
Selain itu, lanjut dia, para buyer diajak untuk menikmati makan siang dengan sajian menu khas Kecamatan Gunungpati. “Mereka juga kita hibur dengan pertunjukkan kesenian tradisional yang apik,” kata dia.
Dian berharap kepada pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah untuk memberikan dukungan dan pendampingan kepada pelaku pariwisata.
Di antara pendampingan tersebut, menurutnya, yaitu dengan memberikan pelatihan marketing.
“Sebetulnya salah satu peluang besar untuk kita itu adalah MICE. Yaitu meeting, incentive, convention, dan exhibition. Namun bagaimana caranya kita mengatur, menjalankan, dan memasarkan dengan baik. Pastinya yang penting dari itu adalah mendatangkan even-even MICE, baik berskala nasional maupun internasional,” katanya.***














Comments powered by CComment